Tradisi
Sepertinya sudah menjadi tradisi kita untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara saat lebaran melalui mudik.
Mudik kali ini benar-benar `mudik` bagi saya. Jalur darat ditempuh dan menyeberang pulaupun dilalui tepat saat puncak arus mudik.
Baru kali ini saya tersadar, jumlah pemudik yg disebutkan oleh media itu sungguh banyak. Dini hari saya terjebak macet di pintu masuk tol
Kanci, subuh terkena getah macet di cikampek selama 4 jam, dan saat ini saya sedang di Merak menunggu antrian masuk kapal, sudah 4 jam saya lalui dan masih blom naik kapal juga.
Kenapa bisa begitu? Penduduk Indonesia ini memang banyak sangat. Setiap tahun pasti mudik. Tetapi infrastruktur penunjang transportasi tidak banyak yang ditambah. Hanya dipoles untuk sekadar perbaikan. Jangankan realisasi jembatan penyeberangan Merak-Bakauheni, kapal RORO (ferry) saja tidak ditambah. Usia kapal-kapal pengangkut tersebut lebih tua dari usia saya.
pemerintah tidak berbenah. Suka tidak berbenah, mungkin tradisi juga.
Ahh, ini hanyalah keluh saya atas kemacetan mudik selama total 10jam waktu saya terbuang percuma. Semoga tidak menjadi kenyataan.
Selamat mudik untuk semua. Selamat Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir & batin.
*Merak, 4 jam untuk menunggu berlabuh,bosan sangat*
--
Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value. ~Albert Einstein
-- http://alle.wordpress.com --
Comments [1]